<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5707632350854247812</id><updated>2011-08-25T10:49:03.584-07:00</updated><title type='text'>khoir</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5707632350854247812/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>khoir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11312498027116966617</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5707632350854247812.post-6217464079116050803</id><published>2010-11-27T07:42:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T07:42:35.517-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;knp klo shalat magrib, isya n subuh klo membaca  suroh di keraskan suara'y, dan klo shlt zuhur n asar di pelanin suara'y&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span data-jsid="text"&gt;&amp;nbsp;menurut berbagai sumber yg saia ketahui sewaktu  jaman Rasul dahulu, adalah jamannya perang Maka dari itu jika kita  sholat duhur, asar dikeraskan suaranya,&lt;span class="text_exposed_hide"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;maka  akan ketahuan musuh dan dibunuh Begitu pula sebaliknya, swaktu  maghrib, musuh - musuh yahudi sedang beristirahat,maka mereka (  kaum yahudi) tidak akan mendengar orang yg sdang sholat...'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span data-jsid="text"&gt;Sunnat bagi imam dan munfarid, membaca  jahar(nyaring yang didengar oleh ma'mum) pada dua raka'at yg pertama  shalat Maghrib, dua raka'at yg pertama shalat Isya, dan kedua-dua rakat  shalat Subuh.Dan sunnah bagi imam dan munfarid membaca sir (p&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;erlahan,hanya  mendengarkan diri sendiri), pada dua shalat siang hari yaitu Dzuhur dan  'Ashar Muhadzzdab karya Imam Abi Ishaq Assyairozy, juz 1 halaman 74&lt;br /&gt;Wallahu  a'lam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5707632350854247812-6217464079116050803?l=khoir-khoir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/feeds/6217464079116050803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/2010/11/knp-klo-shalat-magrib-isya-n-subuh-klo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5707632350854247812/posts/default/6217464079116050803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5707632350854247812/posts/default/6217464079116050803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/2010/11/knp-klo-shalat-magrib-isya-n-subuh-klo.html' title=''/><author><name>khoir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11312498027116966617</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5707632350854247812.post-8950644098939029750</id><published>2010-11-13T19:08:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T19:08:17.040-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pengertian Fiqh &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Fiqih menurut bahasa berarti ‘paham’, seperti dalam firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”&lt;/em&gt; (QS. An Nisa: 78)&lt;br /&gt;dan sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya.”&lt;/em&gt; (Muslim no. 1437, Ahmad no. 17598, Daarimi no. 1511)&lt;br /&gt;&lt;span id="more-83"&gt;&lt;/span&gt;Fiqih Secara Istilah Mengandung Dua Arti:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan &lt;em&gt;mukallaf&lt;/em&gt;  (mereka yang sudah terbebani menjalankan syari’at agama), yang diambil  dari dalil-dalilnya yang bersifat terperinci, berupa nash-nash al Qur’an  dan As sunnah serta yang bercabang darinya yang berupa ijma’ dan  ijtihad.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum syari’at itu sendiri. Jadi perbedaan antara kedua  definisi tersebut bahwa yang pertama di gunakan untuk mengetahui  hukum-hukum (Seperti seseorang ingin mengetahui apakah suatu perbuatan  itu wajib atau sunnah, haram atau makruh, ataukah mubah, ditinjau dari  dalil-dalil yang ada), sedangkan yang kedua adalah untuk hukum-hukum  syari’at itu sendiri (yaitu hukum apa saja yang terkandung dalam shalat,  zakat, puasa, haji, dan lainnya berupa syarat-syarat, rukun-rukun,  kewajiban-kewajiban, atau sunnah-sunnahnya).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;strong&gt;Hubungan Antara Fiqh dan Aqidah Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diantara keistimewaan fiqih Islam -yang kita katakan sebagai hukum-hukum syari’at yang mengatur perbuatan dan perkataan &lt;em&gt;mukallaf&lt;/em&gt;-  memiliki keterikatan yang kuat dengan keimanan terhadap Allah dan  rukun-rukun aqidah Islam yang lain. Terutama Aqidah yang berkaitan  dengan iman dengan hari akhir. Yang demikian Itu dikarenakan keimanan  kepada Allah-lah yang dapat menjadikan seorang muslim berpegang teguh  dengan hukum-hukum agama, dan terkendali untuk menerapkannya sebagai  bentuk ketaatan dan kerelaan. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada  Allah tidak merasa terikat dengan shalat maupun puasa dan tidak  memperhatikan apakah perbuatannya termasuk yang halal atau haram. Maka  berpegang teguh dengan hukum-hukum syari’at tidak lain merupakan bagian  dari keimanan terhadap Dzat yang menurunkan dan mensyari’atkannya  terhadap para hambaNya.&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;Allah memerintahkan bersuci dan menjadikannya sebagai salah satu keharusan dalam keiman kepada Allah sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan  shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan  sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”&lt;/em&gt; (QS. Al Maidah: 6)&lt;br /&gt;Juga seperti shalat dan zakat yang Allah kaitkan dengan keimanan terhadap hari akhir, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.”&lt;/em&gt; (QS. An naml: 3)&lt;br /&gt;Demikian pula taqwa, pergaulan baik, menjauhi kemungkaran dan contoh  lainnya, yang tidak memungkinkan untuk disebutkan satu persatu. (lihat &lt;em&gt;Fiqhul Manhaj&lt;/em&gt; hal. 9-12)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fiqh Islam Mencakup Seluruh Perbuatan Manusia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak ragu lagi bahwa kehidupan manusia meliputi segala aspek. Dan  kebahagiaan yang ingin dicapai oleh manusia mengharuskannya untuk  memperhatikan semua aspek tersebut dengan cara yang terprogram dan  teratur. Manakala fiqih Islam adalah ungkapan tentang hukum-hukum yang  Allah syari’atkan kepada para hamba-Nya, demi mengayomi seluruh  kemaslahatan mereka dan mencegah timbulnya kerusakan ditengah-tengah  mereka, maka fiqih Islam datang memperhatikan aspek tersebut dan  mengatur seluruh kebutuhan manusia beserta hukum-hukumnya.&lt;br /&gt;Penjelasannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kalau kita memperhatikan kitab-kitab fiqih yang mengandung  hukum-hukum syari’at yang bersumber dari Kitab Allah, Sunnah Rasulnya,  serta Ijma’ (kesepakatan) dan Ijtihad para ulama kaum muslimin, niscaya  kita dapati kitab-kitab tersebut terbagi menjadi tujuh bagian, yang  kesemuanya membentuk satu undang-undang umum bagi kehidupan manusia baik  bersifat pribadi maupun bermasyarakat. Yang perinciannya sebagai  berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah. Seperti  wudhu, shalat, puasa, haji dan yang lainnya. Dan ini disebut dengan  Fiqih Ibadah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah kekeluargaan. Seperti  pernikahan, talaq, nasab, persusuan, nafkah, warisan dan yang lainya.  Dan ini disebut dengan Fikih &lt;em&gt;Al Ahwal As sakhsiyah&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan hubungan  diantara mereka, seperti jual beli, jaminan, sewa menyewa, pengadilan  dan yang lainnya. Dan ini disebut Fiqih Mu’amalah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban pemimpin  (kepala negara). Seperti menegakan keadilan, memberantas kedzaliman dan  menerapkan hukum-hukum syari’at, serta yang berkaitan dengan  kewajiban-kewajiban rakyat yang dipimpin. Seperti kewajiban taat dalam  hal yang bukan ma’siat, dan yang lainnya. Dan ini disebut dengan Fiqih &lt;em&gt;Siasah Syar’iah&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum yang berkaitan dengan hukuman terhadap pelaku-pelaku  kejahatan, serta penjagaan keamanan dan ketertiban. Seperti hukuman  terhadap pembunuh, pencuri, pemabuk, dan yang lainnya. Dan ini disebut  sebagai Fiqih &lt;em&gt;Al ‘Ukubat&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum yang mengatur hubungan negeri Islam dengan negeri  lainnya. Yang berkaitan dengan pembahasan tentang perang atau damai dan  yang lainnya. Dan ini dinamakan dengan Fiqih &lt;em&gt;As Siyar&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlak dan prilaku, yang baik maupun yang buruk. Dan ini disebut dengan adab dan akhlak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Demikianlah kita dapati bahwa fiqih Islam dengan hukum-hukumnya  meliputi semua kebutuhan manusia dan memperhatikan seluruh aspek  kehidupan pribadi dan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Sumber-Sumber Fiqh Islam &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semua hukum yang terdapat dalam fiqih Islam kembali kepada empat sumber:&lt;br /&gt;1. Al-Qur’an&lt;br /&gt;Al Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad  untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang  benderang. Ia adalah sumber pertama bagi hukum-hukum fiqih Islam. Jika  kita menjumpai suatu permasalahan, maka pertamakali kita harus kembali  kepada Kitab Allah guna mencari hukumnya.&lt;br /&gt;Sebagai contoh:&lt;br /&gt;Bila kita ditanya tentang hukum khamer (miras), judi, pengagungan  terhadap bebatuan dan mengundi nasib, maka jika kita merujuk kepada Al  Qur’an niscaya kita akan mendapatkannya dalam firman Allah subhanahu wa  Ta’ala: (QS. Al maidah: 90)&lt;br /&gt;Bila kita ditanya tentang masalah jual beli dan riba, maka kita  dapatkan hukum hal tersebut dalam Kitab Allah (QS. Al baqarah: 275). Dan  masih banyak contoh-contoh yang lain yang tidak memungkinkan untuk di  perinci satu persatu.&lt;br /&gt;2. As-Sunnah&lt;br /&gt;As-Sunnah yaitu semua yang bersumber dari Nabi berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan.&lt;br /&gt;Contoh perkataan/sabda Nabi:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.”&lt;/em&gt; (Bukhari no. 46, 48, muslim no. 64, 97, Tirmidzi no. 1906,2558, Nasa’i no. 4036, 4037, Ibnu Majah no. 68, Ahmad no. 3465, 3708)&lt;br /&gt;Contoh perbuatan:&lt;br /&gt;Apa yang diriwayatkan oleh Bukhari (Bukhari no. 635, juga  diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 3413, dan Ahmad no. 23093, 23800, 34528)  bahwa ‘Aisyah pernah ditanya: &lt;em&gt;“Apa yang biasa dilakukan Rasulullah di rumahnya?”&lt;/em&gt; Aisyah menjawab: &lt;em&gt;“Beliau membantu keluarganya; kemudian bila datang waktu shalat, beliau keluar untuk menunaikannya.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh persetujuan:&lt;br /&gt;Apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (Hadits no. 1267) bahwa Nabi  pernah melihat seseorang shalat dua rakaat setelah sholat subuh, maka  Nabi berkata kepadanya: &lt;em&gt;“Shalat subuh itu dua rakaat”, &lt;/em&gt; orang tersebut menjawab, &lt;em&gt;“sesungguhnya saya belum shalat sunat dua rakaat sebelum subuh, maka saya kerjakan sekarang.”&lt;/em&gt; Lalu Nabi &lt;em&gt;shollallahu’alaihiwasallam&lt;/em&gt;  terdiam. Maka diamnya beliau berarti menyetujui disyari’atkannya shalat  Sunat Qabliah subuh tersebut setelah shalat subuh bagi yang belum  menunaikannya.&lt;br /&gt;As-Sunnah adalah sumber kedua setelah al Qur’an. Bila kita tidak  mendapatkan hukum dari suatu permasalahn dalam Al Qur’an maka kita  merujuk kepada as-Sunnah dan wajib mengamalkannya jika kita mendapatkan  hukum tersebut. Dengan syarat, benar-benar bersumber dari Nabi  shollallahu’alaihiwasallam dengan sanad yang sahih.&lt;br /&gt;As Sunnah berfungsi sebagai penjelas al Qur’an dari apa yang bersifat  global dan umum. Seperti perintah shalat; maka bagaimana tatacaranya  didapati dalam as Sunnah. Oleh karena itu Nabi bersabda:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”&lt;/em&gt; (Bukhari no. 595)&lt;br /&gt;Sebagaimana pula as-Sunnah menetapkan sebagian hukum-hukum yang tidak  dijelaskan dalam Al Qur’an. Seperti pengharaman memakai cincin emas dan  kain sutra bagi laki-laki.&lt;br /&gt;3. Ijma’&lt;br /&gt;Ijma’ bermakna: Kesepakatan seluruh ulama mujtahid dari umat Muhammad  saw dari suatu generasi atas suatu hukum syar’i, dan jika sudah  bersepakat ulama-ulama tersebut—baik pada generasi sahabat atau  sesudahnya—akan suatu hukum syari’at maka kesepakatan mereka adalah  ijma’, dan beramal dengan apa yang telah menjadi suatu ijma’ hukumnya  wajib. Dan dalil akan hal tersebut sebagaimana yang dikabarkan Nabi saw,  bahwa tidaklah umat ini akan berkumpul (bersepakat) dalam kesesatan,  dan apa yang telah menjadi kesepakatan adalah hak (benar).&lt;br /&gt;Dari Abu Bashrah &lt;em&gt;rodiallahu’anhu&lt;/em&gt;, bahwa Nabi &lt;em&gt;shollallahu’alaihiwasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan ummatku atau ummat Muhammad berkumpul (besepakat) di atas kesesatan.”&lt;/em&gt; (Tirmidzi no. 2093, Ahmad 6/396)&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;Ijma para sahabat ra bahwa kakek mendapatkan bagian 1/6 dari harta warisan bersama anak laki-laki apabila tidak terdapat bapak.&lt;br /&gt;Ijma’ merupakan sumber rujukan ketiga. Jika kita tidak mendapatkan  didalam Al Qur’an dan demikian pula sunnah, maka untuk hal yang seperti  ini kita melihat, apakah hal tersebut telah disepakatai oleh para ulama  muslimin, apabila sudah, maka wajib bagi kita mengambilnya dan beramal  dengannya.&lt;br /&gt;4. Qiyas&lt;br /&gt;Yaitu: Mencocokan perkara yang tidak didapatkan di dalamnya hukum  syar’i dengan perkara lain yang memiliki nash yang sehukum dengannya,  dikarenakan persamaan sebab/alasan antara keduanya. Pada qiyas inilah  kita meruju’ apabila kita tidak mendapatkan nash dalam suatu hukum dari  suatu permasalahan, baik di dalam Al Qur’an, sunnah maupun ijma’.&lt;br /&gt;Ia merupakan sumber rujukan keempat setelah Al Qur’an, as Sunnah dan Ijma’.&lt;br /&gt;Rukun Qiyas&lt;br /&gt;Qiyas memiliki empat rukun:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dasar (dalil).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masalah yang akan diqiyaskan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum yang terdapat pada dalil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Allah mengharamkan khamer dengan dalil Al Qur’an, sebab atau alasan  pengharamannya adalah karena ia memabukkan, dan menghilangkan kesadaran.  Jika kita menemukan minuman memabukkan lain dengan nama yang berbeda  selain khamer, maka kita menghukuminya dengan haram, sebagai hasil Qiyas  dari khamer. Karena sebab atau alasan pengharaman khamer yaitu  “memabukkan” terdapat pada minuman tersebut, sehingga ia menjadi haram  sebagaimana pula khamer.&lt;br /&gt;Inilah sumber-sumber yang menjadi rujukan syari’at dalam  perkara-perkara fiqih Islam, kami sebutkan semoga mendapat manfaat,  adapun lebih lengkapnya dapat dilihat di dalam kitab-kitab usul fiqh  Islam (&lt;em&gt;Fiqhul Manhaj ‘ala Manhaj Imam Syafi’i&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Fatawa&lt;br /&gt;Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5707632350854247812-8950644098939029750?l=khoir-khoir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/feeds/8950644098939029750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/2010/11/pengertian-fiqh-fiqih-menurut-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5707632350854247812/posts/default/8950644098939029750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5707632350854247812/posts/default/8950644098939029750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khoir-khoir.blogspot.com/2010/11/pengertian-fiqh-fiqih-menurut-bahasa.html' title=''/><author><name>khoir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11312498027116966617</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
